Setiap saat kita dihadapkan pada situasi harus memilih, kadang kita dihadapkan pada dilema mana yang harus diambil karena pilihan ang diberikan pada kita kadang samar, seperti halnya kemarin sore pada saat hati ini tiba-tiba merasa sangat merindukan kehadiran anakku, aku hanya bisa diam tertunduk karena itu tak mungkin akan terjadi , aku hanya bisa diam mengurung diri dalam rumah sambil duduk dihadapan pesawat televisi,seperti yang mengerti situasi semua anggota keluargaku membiarkan aku duduk sendirian, padahal aku sendiri tidak sedang menikmati acara di Televisi pesawat itu dinyalakan hanya untuk menutupi keadaan sebenarnya karena aku tidak mau anggota keluargaku mengetahui keadaan yang sebenarnya ada dalam hatiku, mataku sudah sangat perih menahan supaya air mata tidak mengalir.
Entah sudah berapa gelas kopi ditambahkan oleh istriku dan entah sudah berapa banyak rokok aku hisap untuk sekedar menghilangkan penat di hatiku, sedih ini tak pernah mau pergi meninggalkan aku, dalam situasi seperti ini aku merasa betapa panjang hari yang harus aku lalui, sakit rasanya merasakan rindu yang tak mungkin terpenuhi.
Aku berusaha melupakan semuanya tapi seperti terjadi perang antara akal sehat dan perasaanku, akal sehatku mengakui bahwa apa yang terjadi antara aku dan anakku adalah sebuah takdir yang merupakan sebuah keniscayaan, tapi perasaanku selalu mengatakan mengapa ini mesti terjadi pada aku dan anakku? Perasaan sakit yang tak terobati kadang menyergap dan mengharubiru perasaanku, seperti yang terjadi saat ini akal sehatku mengatakan kamu laki-laki masa menangis!!!!!, tapi perasaanku mengatakan sebaliknya.
Semua orang yang mengetahui permasalahn aku hanya mengatakan kamu mesti menerma itu sebagai suatu kenyataan, dan Tuhan tidak akan menguji Umatnya diluar kemampuannya, kamu mesti sabar dan jangan bersikap Suudzon, kalimat itu terus yang meluncur sampai hari ini.
Dalam situasi hati yang sedang galau tiba-tiba aku dengar Istriku berbicara dengan seseorang, belum pulih benar perasaanku tiba-tiba istriku memanggil aku, ia mengatakan ada Yudi datang katanya, Yudi adalah karibnya almarhum anakku, ia yang selalu bersama dengan anakku kemanapun ia pergi untuk kegiatan perkuliahan ia juga yang selalu mengerjakan setiap tugas perkuliahan di rumahku, antara senang dan sedih aku menerima kedatangannya ,rasa senang muncul karena pada saat aku sedang merasa rindu ia datang, terus terang rasa rinduku sedikit terobati karena ia banyak memiliki kesamaan dengan almarhum, ia datang untuk pamit padaku bahwa ia akan pergi ke Bali selama seminggu untuk Kuliah lapangan, sedihnya mungkin dia akan pergi bersama dengan anakku jika ia masih ada, tapi sudahlah mungkin Tuhan mengirim dia kerumahku sebagai pengobat rasa rinduku, Alhamdulillah.